percobaan uji abu

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PENDIDIKAN MIPA
TOPIK:UJI BAKAR ABU

 

 

 

 

OLEH :

NAMA                  :NOVI KONTESA

                                                 NIM                      :ACC 112 021

                                          

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

JURUSAN MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA

TAHUN 2013

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR PENDIDIKAN MIPA

  1. Topik : UJI ABU
  2. Dasar Teori:
  3. A.  Asam

Asam berasal dari bahasa latin, yaitu Denfan Ktaacidus yang artinya masam. Asam menurut Arrhenius adalah senyawa yang menghasilkan ion hidrogen ketika larut dalam pelarut air. Kekuatan asam ditentukan oleh banyak sedikitnya ion hidrogen yang dihasilkan. Semakin banyak ion H+ yang dihasilkan, semakin kuat sifat asamnya.  Suatu zat dapat dikatakan asam apabila zat tersebut memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

  • Memiliki rasa asam/masam/kecut jika dikecap.
  • Menghasilkan ion H+ jika dilarutkan dalam air.
  • Memiliki pH kurang dari 7 (pH < 7).
  • Bersifat korosif, artinya dapat menyebabkan karat pada logam.
  • Jika diuji dengan kertas lakmus, mengakibatkan perubahan warna sebagai berikut:

–       Lakmus biru berubah menjadi warna merah.

–       Lakmus merah tetap berwarna merah.

  • Menghantarkan arus listrik.
  • Bereaksi dengan logam menghasilkan gas hidrogen.

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan kekuatannya, asam terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

  • Asam kuat yaitu asam yang banyak menghasilkan ion yang ada dalam larutannya (asam yang terionisasi sempurna dalam larutannya).
  • Asam lemah yaitu asam yang sedikit menghasilkan ion yang ada dalam larutannya (asam yang hanya terionisasi sebagian dalam larutannya).

 

 

 

 

  1. B.  Basa

Basa menurut Arrhenius ialah senyawa yang terlarut dalam air yang sudah menghasilkan ion hidroksida (OH). Semakin banyak jumlah ion OH yang dihasilkan, maka semakin kuat lah sifat basanya. Basa juga dapat menetralisirkan asam (H+) dan menghasilkan air (H2O). Suatu zat dikatakan basa jika zat tersebut mempunyai sifat sebagai berikut:

  • Rasanya pahit dan terasa licin pada kulit.
  • Apabila dilarutkan dalam air zat tersebut akan menghasilkan ion OH.
  • Memiliki pH di atas 7 (pH > 7).
  • Bersifat elektrolit.
  • Menetralisirkan sifat asam.
  • Jika diuji dengan kertas lakmus, mengakibatkan perubahan warna sebagai berikut:

–       Lakmus biru tetap berwarna biru.

–       Lakmus merah berubah warna menjadi biru.

 

Berdasarkan kemampuan melepaskan ion OH, basa dapat terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

  • Basa kuat yaitu basa yang bisa menghasilkan ion OH dalam jumlah yang besar. Basa kuat biasanya disebut dengan  istilah kaustik.
  • Basa lemah yaitu basa yang menghasilkan ion OH dalam kecil.

 

  1. C.  Logam Alkali

Logam alkali sangat reaktif, karena itu harus disimpan dalam minyak. Sifat yang umum dimiliki oleh logam alkali adalah sebagai konduktor panas yang bail, titik didih yang tinggi, permukaan berwarna abu-abu keperakan. Atom logam alkali bereaksi dengan melepaskan 1 elektron membentuk ion bermuatan +1, reaksinya: Na            Na+ 1e. Susunan elektron dari 2, 8, 1 menjadi 2, 8 yang menjadi konfigurasi elektron gas mulia. Sifat lain logam alkali yaitu memiliki titik leleh rendah, densitas rendah dan sangat lunak.

 

 

Kecenderungan golongan alkali dengan meningkatnya nomor atom adalah:

v Titik leleh dan titik didih menurun.

v Unsur lebih reaktif.

v Ukuran atom membesar (jari-jari makin besar).

v Densitas meningkat proportional dengan meningkatnya massa atom.

v Kekerasan menurun.

v Jika dipanaskan diatas nyala api, memberikan warna yang spesifik (Litium-merah, Natrium-kuning, Kalium-ungu, Cesium-biru).

  1. D.  Logan Alkali Tanah

Logam alkali tanah pada periode yang sama memiliki:

  • Ø Titik leleh dan titik didih lebih tinggi, lebih keras, lebih kuat dan lebih padat. Hal ini disebabkan karena terdapat 2 delokalisasi elektron per ion dalam kristal yang memberikan gaya elektronik lebih besar dengan muatan ion. M+ yang lebih tinggi.
  • Ø Sifat kimia sangat mirip misalnya dalam pembentukan senyawa ionic tetapi berbeda dalam rumus dan reaktivitas lebih rendah karena energi ionisasi (IE) pertama lebih tinggi dan terdapatnya energi ionisasi kedua membentuk ion M2+ yang stabil.
  • Ø Bilangan oksidasi senyawa selalu +2 di dalam senyawa.

–       Dua elektron s terluar lepas, sedangkan energi ionisasi ketiga sangat tinggi untuk membentuk ion +3.

–       Golongan 2 yang stabil membentuk konfigurasi elektron gas mulia. Contoh: ion kalsium, Ca2+ = 2, 8, 8 atau 1s2, 2s2, 2p6, 3s2, 3p6 atau [Ar].

  • Ø Pada umumnya makin ke bawah dalam satu golongan nomor atom cenderung makin meningkat.
  • Ø Energi ionisasi pertama atau kedua menurun karena jari-jari atom makin besar akibat adanya ekstra kulit yang terisi. Elektron terluar sangat jauh dari inti sehingga tertarik lemah oleh inti sehingga lebih sedikit energi yang diperlukan untuk melepasnya.
  • Potensial energi ionisasi selalu meningkat dengan urutan ke 3> 2 >1, karena muatan inti yang sama menarik sedikit elektron yang rata-rata lebih dekat dengan inti. Tetapi dengan catatan IE ke 2 untuk golongan 1. IE ke 3 untuk golongan 2 menunjukkan peningkatan yang luar biasa dibandingkan IE  sebelumnya.
  • Ø Jari-jari atom atau ionik meningkat:

–       Disebabkan adanya kulit yang lebih banyak.

–       Jari-jari golongan 2 lebih kecil daripada golongan 1 karena tarikan elektron dengan jumlah kulit yang sama.

–       Biasanya jari-jari ion golongan 2 (M2+) lebih kecil daripada golongan 1 (M+) pada periode yang sama karena muatan inti meningkat.

  • Ø Pada umumnya (tidak selalu) titik didih dan titik leleh menurun. Hal ini disebabkan karena peningkatan jari-jari ion dan meningkatnya muatan.
  • Lebih reaktif, karena makin ke bawah makin mudah membentuk ion.
  • Ø Elektronegatifnya cenderung menurun.
  • Ø Pola rumus molekul:

–       Rumus umum dapat ditulis B M2O atau rumus ionik (M+)2O2- diman M adalah B. Li sampai Fr atau Be sampai Ra.

–       Jika dipanaskan diatas nyala api memberikan warna: Be = putih, Mg = putih, Ca = oranye, Sr = merah, Ba = hijau.

 

  1. Indikator alami
             Indikator alami terbuat dari zat warna alami yang didapat dari hasil ekstrak tumbuhan. Indikator alami hanya bisa menunjukkan apakah zat tersebut bersifat asam atau basa saja, tetapi tidak dapat menunjukan nilai pH-nya. Macam-macam indikator alami yang dapat digunakan yaitu seperti  ekstrak bunga mawar, ekstrak kembang sepatu, ekstrak kunyit,ekstrak bunga karamunting.

 

  1. Alat dan Bahan  

No

Alat

Bahan

1

Toples berukuran sedang

Sampah organik(daun)

2

Penyaring

Kunyit

3

Gelas akua

Bunga Sepatu

4

Kompor

Air

5

Korek Api

Belimbing wuluh

6

Sendok

Karamunting

7

Piring

Soda api

8

air

Jeruk nipis

9

Cobek + olekan

cuka

10

sabun

 

  1. Prosedur Kegiatan
  • Menyiapkan alat dan bahan.
  • Mengambil Sampah organik (berupa daun tumbuhan).
  • Membakar sampah organik sampai menjadi abu.
  • Mengambil abu hasil pembakaran kemudian memasukan abu kedalam toples (wadah) dan mencampurkan air kedalamnya dengan perbandinggan 1: 2.
  • Mendiamkannya selama 1 malam.
  • Menyaring filtrat dengan endapannya
  •  Memisahkan airnya dalam 2 tempat yang berbeda.
  • menguji dengan indikator alami seperti bunga karamunting, kembang sepatu dan kunyit.
  • Amati warnanya dan tentukan sifat filtrat abu tersebut.
  • Ø Sebagai perbandingan untuk menentukan sifat larutan, dapat dibuat dengan membuat larutan asam (cuka),larutan asam(belimbing wuluh),larutan asam(jeruk nipis) dann larutan basa
    ( sabun),larutan basa (air soda),larutan basa (
  • Setelah itu Mengambil endapan abu kemudian dibakar dan amati warna pembakaran.
  • Mencatat hasil pengamatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Data Hasil Pengukuraan

No

Perlakuan

Hasil pengamatan

1

  • Air arang
  • Air cuka
  • Indikator buah karamunting
  • Indikator kembang sepatu
  • Indikator kunyit

–    Warnanya abu-abu

–    Warnanya bening

–    Warnanya coklat muda

–    Warnanya ungu tua

–    Warnanya orange

2

Air abu (sampel)

–     Air abu + indikator karamunting

–     Air abu + indikator kembang sepatu

–     Air abu + indikator kunyit

–    Warnanya abu-abu

–    Warnanya kuning tua

–    Warnanya hitam

–    Warnanya kuning

3

Air cuka (larutan asam)

–     Air cuka + indikator buah karamunting

–     Air cuka + indikator kembang sepatu

–     Air cuka + indikator kunyit

–    Warnanya bening

–    Warnanya merah bata

–    Warnanya merah

–    Warnanya merah muda

4

Air belimbing(larutan asam)

-air belimbing +indikator buah karamunting

-air belimbing + indikator kembang sepatu

-air belimbing + indikator kunyit

–    Warnanya kuning sedikit bening

–    Warnya  merah muda

–     

–    Warnanya kuning

5

Air jeruk nipis(larutan asam)

-Air jeruk nipis + indikator buah karamunting

-air jeruk nipis + indikator kembang sepatu

-air jeruk nipis + indikator kunyit

-warnanya kuning

-warnanya merah

-warnya merah muda

-warnanya kuning

6

Air sabun (larutan basa)

–     Air sabun + indikator buah karamunting

–     Air sabun + indikator kembang sepatu

 

–    Warnanya putih

–    Warnanya merah muda

–    Warnanya merah muda

–     

7

Sabun (larutan basa)

-Air sabun + indikator buah   karamunting

-air sabun + indikator kembang sepatu

-air sabun + indikator kunyit

–    Warnya bening

–    Warnanya ungu tua

–    Warnanya hijau muda

–    Warnanya bening tapi ada sedikit berwarna orange

8

Soda api (larutan basa)

-soda api + indikator buah karamunting

-soda api + indikator kembang sepatu

-soda api + indikator kunyit

–    Warnya putih

–    Warnya orang tapi ada sedikit kehijauan

–    Warnya orange

–    Warnya orange

 

  1. Pembahasan

Pada saat pembakaran daun,  terjadi pristiwa  kimia yang ditandai dengan hasil pembakaran daun berupa abu. Kemudian mencampurkannya dengan air dengan skala perbandingan 2 : 1 kemudian didiamkan selama 24 jam diperoleh endapan, endapan tersebut terdapat dibagian atas dan bawah kaleng.

ü  Pembuktian unsur hara pada abu tanaman dilakukan dengan cara membakar sampah organik berupa serpihan kayu hingga serpihan kayu menjadi arang, setelah itu dicampur dengan air, dengan perbandingan 1:2 dan diendapkan selama 1 malam. Setelah 1 malam larutan dipisahkan hingga terpisah antara endapan dan filtratnya. Filtrat kemudian di uji dengan berbagai indikator alami seperti kunyit, bunga karamunting dan kembang sepatu untuk mengetahui sifat dari abu tersebut. Sebagai perbandingan dapat menggunakan larutan cuka,belimbing wuluh,dan jeruk nipis sebagai asam, sabun, dan air soda sebagai basa. Jika air abu ditambahkan dengan indikator warna larutannya berubah menjadi atau mendekati asam maka sifat air abu adalah asam, begitu juga apabila air abu ditambahkan dengan indikator warnanya berubah menjadi atau mendekati basa, maka air abu akan bersifat basa.

ü  Dalam percobaan ini air abu bersifat basa, karena hal ini ditunjukkan dengan warna air abu setelah ditambahkan indikator yang bersifat basa yaitu sabun, maka berubah warnanya berubah menjadi atau mendekati warna dari basa tersebut.

 

 

 

 

ü  Langkah selanjutnya yaitu pengujian unsur hara yang terdapat dalam endapan. Cara mengidentifikasi yaitu dengan menguapkan filtrat sisa, endapan yang terdapat dari penguapan filtrat kemudian dibakar, endapan abu yang sudah kering tersebut kemudian dipanaskan di atas kompor yang apinya sudah berwarna biru dan setelah itu menghasilkan percikan warna orange dan warna Ungu. Hal ini juga menunjukkan bahwa adanya unsur Natrium dan warna Kalium.

 

 

 

 

 

 

  1. Kesimpulan

Dari hasil pengamatan dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  • Sifat air abu yaitu basa hal ini ditandai dengan berubahnya warna air abu menjadi atau mendekati warna larutan basa setelah ditambahkan indikator yang bersifat basa.
  • Didalam abu tanaman terdapat unsur Na (Narium) dengan ditandai adanya warna orange pada saat uji pembakaran endapan abu.
  • Pada analisis data gelas 1 dan 2, menunjukkan adanya reaksi antara asam dan basa sehingga sifatnya saat ditambahkan indikator kunyit dan bunga sepatu sama-sama bersifat asam, sedangkan pada endapan yang dibakar diatas bagian kompor terdapat unsur hara.
  1. VII.     Lampiran

 

–       Foto-foto kegiatan dalam melakukan percobaan:

  1. Membakar sampah organik (daun)

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Proses pengendapan arang dari pembakaran daun dan hasil filtratnya

       

  1. Gambar bahan-bahannya serta indikator alaminya            

 

 

 

 

 

  1. Hasil pengamatan

          Image    

Air abu+kembang sepatu

Air abu+karamunting

 Air abu+kunyit

 

              

 

 

 

                      

Air cuka+kembang sepatu

 

Air cuka+karamunting

 

 Air cuka+kunyit

 

 

Sabun+kembang sepatu  air sabun+kunyit  air sabun+karamunting

   

Belimbing+kembang sepatu belimbing+kunyit   belimbing+karamunting

 

    

Soda api+kembang     sepatu soda api+kunyit   soda api+karamunting

 

 

           

Jeruk nipis+kembang sepatu jeruk nipis+kunyit  jeruk nipis+karamuntin

  1. Uji gas dan uji nyala pada abu/arang

      

 

VII.Penutup

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s